“Eyang Subur” a brand with strong customer loyalty :D

Brand ManagementAkhir-akhir ini media cetak dan elektronik heboh membicarakan kasus Eyang Subur yang dituduh oleh Adi Bing Slamet telah menyebarkan ajaran sesat. Banyak selebritis pun angkat bicara di infotainment soal hubungan mereka dengan Eyang Subur. Sebagian mereka membenarkan tuduhan Adi dan ikut membeberkan keburukan Eyang Subur yang menikahi banyak wanita karena mendapat bisikan gaib; sedangkan sebagian lagi berkeras bahwa Eyang Subur tidak seperti yang dituduhkan, beliau adalah dermawan yang suka memberikan hartanya (uang, mobil, dll) kepada orang lain.

Tak hanya media massa, pengguna online social media Twitter pun heboh membicarakan si Eyang. Eyang Subur kemudian berhasil menjadi Trending Topic Indonesia (topik terpopuler yang dibicarakan oleh pengguna twitter se-Indonesia).  Lantas, apa kaitannya kasus Eyang Subur dengan Marketing Strategy?

Singkatnya, Eyang Subur, berhasil membangun emotional value dengan muridnya.Kepercayaan customernya kepada brand ini juga sangat tinggi – Hermawan Menyebutnya Brand Religion- customer percaya bahwa brand ini adalah brand terbaik. Meskipun Brand ini dihujat oleh pelanggan lain yang kecewa, mereka tetap setia memakai Brand tersebut, bahkan sampai ikut membela.  Mampukah perusahaan kita mencapai hal seperti itu, Brand kita dibela sebagai produk terbaik oleh konsumen kita yang sudah sangat percaya?  Baca lebih lanjut ke bawah yaaa😀

Kasus Eyang Subur ini menarik. Kita ibaratkan kasus Eyang Subur ini sebagai sebuah Brand Eyang yang saat ini sedang dikomplen oleh customernya yang tidak puas dengan brand tersebut. Jika ada satu komplen kecewa dimasukkan ke media massa dan diramaikan di twitter, kekuatan brand tersebut bisa goyang. Masih ingat kasus Rumah Sakit Omni Internasional yang dituntut oleh Prita atas tuduhan maal praktek? Ramai orang mendukung Prita sehingga RS Omni harus melakukan berbagai effort untuk membersihkan nama baik brandnya, mulai dari mengirimkan surat klarifikasi kepada seluruh pasien Omni, hingga membawa kasus tersebut ke meja hijau. Omni sendiri, sedangkan Prita banyak dukungan. Bagaimana dengan Eyang? Sebaliknya, Eyang mendapat banyak dukungan dari customer2nya ketika menghadapi banyak hujatan, tanpa membayar -katanya-.

Brand dari perusahaan mana yang ketika dikomplen oleh customernya, malah dibela oleh pelanggan lain? Saya rasa tidak banyak, yang ada umumnya justru perusahaan yang mati-matian memperbaiki brand imagenya. Si Eyang, kebalikannya, ketika dihujat ia hanya diam. Tarzan dan artis-artis lain lah yang membela Eyang, tanpa dibayar katanya.  Customer Satisfaction si Tarzan dll itu mungkin sudah tinggi sekali sehingga mereka yakin bahwa “service” yang diberikan Eyang ini sangat baik, dan tidak mungkin buruk seperti yang dituduh Adi dll.  Saking puasnya, mereka lantas membela mati-matian agar brand ini tidak hancur. Perusahaan mana yang sanggup melakukan seperti ini? Ketika ada produknya yang cacat, konsumen lain bisa membela dengan kuat?

Tidak selesai sampai disitu saja kekaguman saya pada kasus ini. Pemberitaan di TV menunjukkan bahwa Eyang ini sangat kaya, bisa memberikan mobil gratis dan uang kepada banyak orang, dan sebagian mengatakan kekayaan itu didapat dari hasil berjudi dan ilmu hitam. Nah, ini adalah ajang promo gratis bagi Eyang! Brand Eyang Subur tidak melemah, justru brand awarenessnya semakin meningkat di mata segmen pasarnya. Sebut saja segmennya adalah orang-orang pengguna dark magic untuk mencari kekayaan. Setelah dihujani pemberitaan setiap hari tentang Eyang Subur, segmented customer ini semakin aware bahwa “Oh ada loh dukun sakti yang namanya Eyang Subur, keren banget bisa kaya raya dengan kekuatan gaibnya, boleh deh kapan2 gue ikut berguru sama dia” Nah, kan! Jadi nambah deh awarenessnya dari Sabang sampe Merauke, dari rakyat jelata sampe pejabat tingkat tinggi, dan kemungkinan bisa nambah nih calon murid si Eyang. Coba kalo perusahaan dihujat, wahh udah brandnya goyang, customer lain malah makin khawatir ketika memakai produknya, dan ada potensi ditinggalkan.

Akhirnya, Regardless apakah yang dilakukan si Eyang ini benar atau salah, saya bisa mengambil pelajaran banyak tentang Branding Strategy. Pelajarannya adalah Setiap brand dari product (service or good) itu haruslah membuat konsumennya puas maksimal, terikat dengan brand, dan mereka yakin bahwa produk itu adalah produk terbaik. Hermawan Kertajaya, dalam bukunya Marketing in Venus, menyebutkan bahwa sebuah brand itu harus memiliki karisma (Charismatic Brand), yang berarti tidak hanya memberikan functional value, tapi juga emotional value dan intellectual value, sehingga tercipta Spiritual connection antara brand dengan pelanggannya.

Eyang Subur, berhasil membangun emotional value dengan muridnya.Kepercayaan customernya kepada brand ini juga sangat tinggi – Hermawan Menyebutnya Brand Religion- customer percaya bahwa brand ini adalah brand terbaik. Meskipun Brand ini dihujat oleh pelanggan lain yang kecewa, mereka tetap setia memakai Brand tersebut, bahkan sampai ikut membela.  Mampukah perusahaan kita mencapai hal seperti itu?

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on April 6, 2013, in Pemikiran Sakti Wai and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: