Di Sumbawa Barat, Kami Bercerita

“Lift itu ruangan kecil yang ada pintunya. Dia seperti ember untuk menimba air. Air masuk ke dalam ember, seperti orang-orang masuk ke dalam lift lalu pintunya ditutup; Ember kemudian di tarik ke atas, seperti lift yang ditarik ke atas hingga lantai 30; Pintunya terbuka dan orang-orang pun keluar dari ruangan lift, dan tiba di lantai 30.”  Kami bercerita di depan siswa SD Negeri Tatar, Kecamatan SekongkangKabupaten Sumbawa Barat, NTB, 2012,

Foto bersama Kepala Sekolah, guru, siswa, dan peserta SMBootCamp. Foto oleh Renita putri

Kami berbagi cerita di depan kelas. Ya, Kami, aku tidak sendiri. Ada peserta SMBootCamp lain dari berbagai kota dan berbagai latar belakang ada mahasiswa, pemilik bisnis, pegawai kantor, traveller, dan fotografer. Sustainable Mining Boot Camp adalah kegiatan untuk menjelajahi area pertambangan, tempat proses pengolahan bebatuan hasil tambang, serta berkeliling di lingkungan alam dan berinteraksi dengan masyarakat di desa-desa di sekitar wilayah tambang, yang diadakan oleh PT. Newmont Nusa Tenggara, awal November 2012 lalu.

Kami ingin memperlihatkan Indonesia kepada mereka, anak-anak yang belum pernah keluar pulau. Bagaimana rasanya naik pesawat, naik kapal laut, atau naik bis. Apa yang ada di Jakarta? Bagaimana rupanya surabaya? Seberapa jauh Jambi? Seperti apa rupa gedung bertingkat 30? Bagaimana naiknya? Apa Indonesia? Dimana mereka? Setelah sesi perkenalan dengan tebak2an nama dan ide, ice breaking, dan permainan lain, kami mulai masuk ke topik Jelajah Indonesia.

            “Adik-adik! Provinsi apa saja ya yang ada di Indonesia?”

             “Jogja” “Surabaya” “Jakarta” … “Singapura” Mereka bersahutan.

Aku tersenyum lebar ketika mendengar jawaban mereka, kemudian menunjukkan posisi di peta dimana Singapura yang bukan bagian dari NKRI itu, dimana Jakarta, dan kota-kota lain yang mereka sebut. Pancingan pertanyaan ini kami gunakan untuk mengetahui wawasan mereka.

Bagaimana cara agar kita bisa keluar dari pulau ini dan pergi ke jakarta?” tanyaku lagi.

            “Naik pesawat!” “Kapal laut” Bus” mereka sudah tahu.

            “Siapa yang pernah naik pesawaaaatt!!??” Seru ku. Tak ada yang mengacungkan tangan.

            “Siapaaaaa yang INGIN naik pesawat???” tanyaku. Beberapa mengacungkan tangan dengan yakin, sebagian ragu-ragu.

            “Kakak dulu tinggal di Jambi, kemudian bisa ke Jakarta, GRATIS!” aku memancing rasa penasaran mereka. Kemudian aku melihat mata-mata yang antusias. Ah, mata-mata seperti itu, aku jadi gugup.

            “Kakak bisa kuliah di Jakarta karena mendapatkan beasiswa, jadi bisa kuliah di Jakarta GRATIS, siapa yang mau kuliah gratis?????” pertanyaanku kemudian dijawab dengan acungan tangan dari banyak anak.

            “Hayo! Adik-adik belajar yang pintar, supaya bisa kuliah gratis di Jakarta, seperti kakak-kakak ini” Siapa yang mau pintar?????”

sayaa!!” semua bersemangat.

Di dalam kelas mungil ini ada banyak cerita inspirasi yang dibagikan. Mulai dari cerita tentang bentang alam dari asal provinsi kami, gedung, tempat wisata di sulawesi, dll. Cerita yang paling aku suka adalah cerita dari Angga, peserta SMBootCamp, mahasiswa Fakultas Teknik UI.  Angga bercerita tentang Jakarta: ondel-ondel, gedung bertingkat, dll.

            “Di Jakarta itu, ada gedung yang tiiiingggggiii sekali! Bisa lebih dari 30 tingkat” Angga bercerita.

            “Wah, kalau setinggi itu, bagaimana caranya supaya bisa naik ke lantai 30 ya??”  aku memotong cerita angga.

            “Naik tangga kak!” celetuk seorang anak.

Bisa, naik tangga. Tapi apa sanggup? Gedungnya tinggi sekali, seperti bukit” jelasku. “Ada yang namanya lift.” Aku bingung bagaimana mendeskripsikannya. “Ada yang pernah menimba air di sumur?” untunglah, mereka tahu bagaimana cara menimba air.

lift itu ruangan kecil yang fungsinya seperti ember untuk menimba air. Air masuk ke dalam ember, seperti orang-orang masuk ke dalam lift lalu pintunya ditutup; Ember kemudian di tarik ke atas, seperti lift yang ditarik ke atas hingga lantai 30; pintunya terbuka dan orang-orang pun keluar dari ruangan lift, dan tiba di lantai 30.” Ide ini tiba-tiba saja muncul di otakku dan sepertinya mereka cukup mengerti dengan analogi ini.

Angga kemudian melanjutkan ceritanya tentang Jakarta, Rere bercerita tentang Surabaya dan Bandung, Oliv tentang taman laut bunaken, dll. Aku sendiri, menceritakan dunia tambang yang ada di sekitar mereka, yang belum pernah mereka lihat. Tentang mesin-mesin penggiling raksasa, tentang gunung yang diledakkan, tentang bagaimana mengolah lingkungan, dan sampai akhirnya barang tambang itu bisa menjadi ujung pulpen yang mereka gunakan.

Setelah menceritakan tentang berbagai tempat di Indonesia, kami mengajak adik-adik untuk menentukan kota mana yang mereka suka. Mereka menuliskan nama di kertas kecil, lalu menempelkan nama mereka di kota yang mereka ingin datangi. Suatu saat kami ingin bertemu mereka di kota itu, mungkin sebagai mahasiswa, sebagai pemain film, atau apapun yang mereka impikan. Kami menyemangati mereka agar menjadi anak yang cerdas, agar bisa mudah mendapatkan beasiswa karena ekonomi orang tua mereka memang kurang memungkinkan untuk mengirim anak-anak ini menjelajah ke luar pulau. Jika mereka cerdas, maka banyak peluang untuk mendapatkan beasiswa, yang penting mulai sekarang tingkatkan semangat dan berani mengejar mimpi.

Kemudian aku teringat sebulan sebelumnya, aku mengajak anak-anak SD Islam Tambora, Jakarta Barat, ke blok M Square untuk menonton Film “Cita-citaku setinggi tanah” di XXI. Ini pengalaman pertama kali mereka naik lift. Bedanya sama anak sumbawa, mereka tau ada lift, hanya tak pernah mencoba. Pengalaman pertama mereka naik lift, melihat eskalator, petama kali masuk XXI yang ber-AC, melihat tong sampah yang “canggih” , toilet yang kering, bisa dibaca di link ini.

Acara mengajar di Sumbawa ini benar-benar berkesan. Aku jadi ingin bercerita lebih banyak lagi tentang apa yang ada di luar pulau mereka. Tentang Indonesia, bahkan tentang dunia. Oleh karena itu, aku berniat untuk membuat program Surat Untuk Adik, bersama teman-teman di komunitas YAFI. Semacam surat sederhana yang menceritakan apa saja  disertai foto, kemudian dikirimkan ke mereka untuk menjadi motivasi agar mereka mau mencari pengalaman ke luar pulau. Semoga bisa, Bismillah.

Menempelkan nama di Kota yang ingin didatangi, ternyata Jakarta menjadi favorit. Foto oleh Fafa Firdausi.

Pulang Sekolah

Berlarian sepulang sekolah, foto oleh wai

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on November 24, 2012, in I am a Teacher and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Oh ya lupa ngasih tau… Yg motret peta Indonesia ditempeli surat2 itu si Rere, bukan gue.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: