Aku dan Dylan (Episode 2: Guru diajar Murid)

Juli 2011. Matematika SD harusnya bisa mudah diajarkan dengan gambar dan sedikit sentuhan dongeng (Biasanya begitu senjataku). Namun, kali ini tidak biasa. Dylan, sepertinya belum bisa menerima guru baru—yang tidak sesuai harapannya—perempuan. Aku berusaha mengajarnya dengan cara yang fun, mendongeng dengan berbagai jenis suara, mencoba membuat lelucon, tapi ia tetap terlihat tak bersemangat. (foto dibawah dylan di hari pertama)

“Juwai, can you break this pencil?” dia menyodorkan sebuah pensil. “Use your finger!” Ia menambahkan, sebelum aku sempat menjawab. Pensilnya besar. Bukan pensil yang ada di foto ini. Pensil itu lebih besar dari jari telunjukku. Entah ia beli dimana pensil seperti itu.

Oke, ini tantangan hari pertamaku. Sepertinya perkenalan di awal2 tadi kurang cukup, aku putuskan untuk menghabiskan 3 jam hari ini dengan bermain agar bisa mendapatkan hatinya.

Pensilnya besar! Bagaimana mungkin bisa kupatahkan. Dylan kemudian memperagakannya. Ia menyuruhku memegang pensil itu erat-erat, lalu ia merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu “Ctaak!!” ia mematahkan pensil itu. Aku kaget.

Ia berlari ke kamar, lalu kembali dengan satu genggaman besar pensil-pensil. Astaga, rupanya ia hobi mematahkan pensil dengan berbagai ukuran.

“Oke, your turn! Choose one pencil” Dylan menantangku. Aku, yang tak pernah mencoba ini sebelumnya di rumah, memilih pensil yang paling kecil. Meskipun demikian, aku tetap tak yakin bisa mematahkan pensil itu, I should have tried this at home before!

“Jariku kecil, tapi jari dylan lebih kecil; Ah, tapi kan dia ikut taekwondo, ya wajarlah bisa matahin pensil; yaelah Cuma pensil kecil aja gampang kali way; ga berani; pengecut!” otakku berkecamuk.

“Ouh, Please don’t ask me to do so, Dylan” Sekarang posisiku seperti murid yang meminta gurunya agar tidak menyuruh mengerjakan soal matematika.

“COME ON!!! GIVE IT A TRY!!!” Dylan memaksaku.

Ini pertama kalinya, (setelah beberapa kali menjadi guru privat), aku mendapatkan murid yang menantang seperti ini. Well, tantangan ini belum seberapa dibanding tantangan di hari berikutnya.

Percobaan pertama. Bismillah. Aku hentakkan jariku ke pensil. Ah!!! Pensilnya tidak patah, jariku pedih, Dylan tertawa.

Dia kemudian mengajariku tekniknya, bahwa aku harus memusatkan kekuatan di jariku, fokus pada 2 jari. Keraskan jarinya, lalu hentakkan dengan cepat ke pensil.

Aku mencoba sarannya, meyakinkan diri, lalu menghentakkan jariku. YES!!!! Pensilnya PATAH!! Ini pertama kalinya aku mematahkan pensil.

Mungkin ini sepele untuk kalian yang membaca, tapi bagiku, mengalahkan rasa takut, meyakinkan diri, sampai akhirnya bisa, itu adalah sesuatu yang luar biasa. Dylan, terima kasih sudah mengajari gurumu hari ini.

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on July 28, 2012, in I am a Teacher and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. kw sribu juwai dalam 1 juwai🙂
    *hadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: