Menolong orang yang (pura-pura) Kesusahan

Siaran di radio siang ini selesai, aku bergegas jalan ke halte untuk kembali ke kampusku. Gedung radio ini tak jauh dari kampus, 10 menit jaraknya jika naik kendaraan umum. Minggu ini adalah minggu pertama kuliah di semester 6, tentu aku tak mau terlambat, kuliahku 30 menit lagi dimulai. Beberapa meter dari gedung granadi aku bertemu dengan seorang bapak paruh baya.

Nak, kalau mau ke cawang, jalan dari sini ke arah mana?” Tanyanya dengan sedikit bingung.

“Wah, jauh pak, lebih baik naik busway saja” jelasku. “Bapak darimana?” aku sedikit penasaran.

Saya dari sukabumi tadi. Dasar Jakarta, dompet saya kecopetan di bis, ini saya jalan saja dari tadi.” Aku lihat kakinya memang sudah memerah, lecet karena sandal.

Aku tertegun kasihan dengan bapak ini. Namun, Jakarta terlalu licik, segala hal bisa saja menipu. Kuputuskan untuk menolongnya tidak dalam bentuk uang, tapi dengan membelikannya tiket saja ke Cawang.

Kalau ke cawang, mau ke tempat siapa pak?”

“Saya mau pulang lagi saja ke sukabumi”

“Memang tadinya mau kemana?”

“Maunya ke serang, saya mau ke pabrik, ada teman yang mengajak bekerja disana. Tapi saya mau pulang saja, kalau ke serang tak bawa uang juga susah nantinya.”

Obrolan ini panjang. Kudapatkan informasi bahwa anak beliau bekerja di Palembang dan Kalimantan. Ia tinggal di sukabumi, membuka warung kecil untuk makan sehari-hari. Kedatangan ia ke Jakarta untuk mencari nafkah malah begini jadinya. Ia ingin pulang dulu. Ada beberapa alternatif, bisa ke kampung rambutan atau lebak bulus. Kuputuskan untuk mengantarnya saja sampai ke kampung rambutan, takut dia nyasar.

Dari jalan rasuna said, aku dan beliau naik kopaja P 20,ke arah mampang prapatan. Kami turun di depan pasar mampang. Aku lihat kondisi bapak ini seperti orang ling lung. Entahlah, apa perasaanku saja. Aku ajak beliau untuk makan, tapi beliau menolak. Akhirnya aku belikan saja sebotol air mineral dan beberapa potong roti. Kami menunggu kopaja 57 yang ke arah kampung rambutan.Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 13.00, aku harus kuliah. Tak bisa mengantar, akhirnya aku berikan saja uang secukupnya untuk membeli tiket bus ke sukabumi. Sebelum berpamitan, aku memberinya kartu namaku, memintanya menghubungiku kalau terjadi apa-apa di jalan. Kemudian kami bersalaman dan beliau naik ke kopaja.

Seorang petugas parkir liar mendatangiku setelah bapak itu pergi. Ia menanyakan tentang bapak tadi, dan kuceritakalah. Petugas parkir itu menjelaskan kepadaku bahwa jangan terlalu mudah iba dengan orang di Jakarta. Modus penipuan sudah banyak.

Saya kerja di Jalanan dek, sudah banyak yang seperti itu, pura-pura nanya alamat akhirnya minta uang. Namanya juga Jakarta, segala cara dihalalkan untuk mendapatkan uang.” Ia menasehatiku.

Benar juga apa yang dibilangnya. Sudah banyak penipuan di Jakarta. Tak heran, jika orang-orang disini tidak peduli dengan orang lain. Aku ingat, pernah kesusahan di Blok M, baterai handphone mati, aku tak bisa menghubungi temanku yang harusnya aku temui disana tapi tak tahu posisinya dimana. Susah sekali, bahkan tidak ada, orang yang mau membantuku, sekedar sms saja ke nomor temanku itu, mereka tidak mau. Betapa liciknya Jakarta telah membuat orang-orangnya tak bisa membedakan yang mana penipuan dan yang mana orang yang benar-benar kesusahan.

Pesan pria tadi aku tampung saja sebagai masukan yang sangat baik untuk lebih waspada dan memilih dengan baik orang yang aku tolong. Kejadian yang tadi aku ikhlaskan saja. Uang yang kuberikan tadi jumlahnya juga lumayan. Untuk hitungan anak kosan, uang tadi bisa dipakai untuk uang makan selama 2 hari. Namun, yasudahlah, bukankah tak pernah ada kata sia-sia dalam hidup?

Aku percaya saja bahwa Allah SWT selalu menghitung apa yang kita lakukan.Aku bersedekah, ikhlas, ya kebaikan itu untuk diriku sendiri. Urusan bapak tadi menipuku atau tidak, biarlah Allah yang akan membalasnya juga. Bukankah setiap keburukan akan kembali kepada si pembuatnya dan begitu pula kebaikan? Percaya saja, Allah adalah Zat Yang Maha Adil.

Aku ikhlas. Berjalan menyeberangi jembatan. Sudah pukul 13.30. Yah, telat deh kuliah pertama. Jalanan Macet, wah, sudahlah, tak mungkin lagi masuk kelas. Aku berjalan saja.

Tiba-tiba hp ku bergetar. Nomor tak dikenal menelefonku. Namanya pak Frans , seorang dokter. dan dia mengabarkan bahwa dia membaca tulisanku di sebuah milis tentang YAFI dan programnya KAMI BERBAKTI, dan berminat untuk mengajak teman-temannya untuk ikut membantu program ini.

Aku kaget. Baru tadi aku memberikan sedekah untuk seorang bapak yang entah itu menipuku atau memang benar-benar sedang kesusahan, eh cepat sekali ada balasan, berupa orang lain yang ingin membantuku. Luar biasa sekali kan?

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on February 28, 2012, in Metamorfose Kuliah Wai. Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. semoga Allah selalu mnyertai langkah kak y..amin y robbal ‘alamin..

  2. 🙂 “man yazra yahshud”…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: