Sepotong hatiku tertinggal di Tambora

Aku mau jadi presiden” celetuknya.

Eh, ga gak, ketinggian kak.” Sambungnya lagi.

Jadi polisi aja dh” agak sedikit ragu.

Ah ga jadi dh kak, susah” dengan nada polos akhirnya dia berkata “jadi nelayan aja dh

Di episode 1 “Melukis Mimpi” program Kami Berbakti, anak ini cukup menyita perhatianku. Aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa karena keterbatasan, seorang anak bisa takut untuk bermimpi. Panggil saja dia Marwan. Aku tak bisa menyebutkan namanya disini. Hari ini, di episode 5, hatiku tertinggal di Tambora untuknya.

Program Kami Berbakti adalah program mengajar anak-anak di SD Islam Tambora sekaligus memotivasi dan menginspirasi mereka. Di hari pertama program ini jalan, aku sudah melihat ada tugas besar bagi YAFI (Youth’s Acts For Indonesia), komunitas yang aku dirikan bersama teman-teman pada november 2011 lalu ini. Tidak hanya mengajar, kami juga harus menjadi panutan sekaligus inspirator bagi anak-anak yang umumnya berasal dari keluarga tidak mampu di SD ini.

Di episode 2, 3, dan 4, aku tak banyak berinteraksi dengan Marwan. Maklum, tugasku sebagai koordinator harus mengontrol jalannya acara tersebut dan memastikan semua kegiatan mencapai target sesuai dengan konsep. Para volunteer lah yang kaya dengan pengalaman dan cerita-cerita berharga bersama adik-adik disana yang selalu membuatku sangat iri. Satu hal yang aku tahu, Marwan, berdasarkan evaluasi dari para volunteer, memang membutuhkan “Waktu lebih banyak” untuk memahami materi karena sudah di kelas 5, ia bahkan kurang cepat untuk perkalian sederhana.

Episode 5 Kami Berbakti. Hari ini ada liputan dari DAAI TV yang ingin mengangkat profilku sebagai parlemen Muda Delegasi provinsi Jambi dan kegiatanku bersama YAFI. Hari ini aku berperan seperti volunteer yang ikut mengajar adik-adik. Tak sengaja saja, aku memilih Marwan untuk menjadi adikku.

Tema besar hari ini adalah belajar bahasa inggris dengan permainan pos. Ada 4 pos yang harus dikunjungi adik-adik, yaitu spelling, arranging the sentence, singing, dan watching inspiring video. Adik-adik dibagi menjadi 4 kelompok dan berpindah-pindah ke 4 pos teresbut. Di setiap pos, mereka akan mendapatkan poin yang akhirnya diakumulasi dan dicari pemenangnya. Aku berada di kelompoknya Marwan.

Menyusun kalimat, itu pos yang pertama kali kami datangi. Ada kata yang diacak dan adik diminta untuk menyusun. Sederhana “Sister-My-Is-She”. Untuk anak kelas 5, ku kira Marwan sudah tahu arti per kata tersebut. Kaget aku, marwan tak tahu sama sekali.

Penasaran, kemudian aku mulai bertanya “Bahasa inggrisnya saya, apa ya?” Marwan tak tahu. “Kalau dia perempuan, apa?” ia juga tak tahu. Jadilah aku mengajarkan I, You, He, She di pos ini, bukan mengajarkan menyusun kalimat. Awalnya aku sangat yakin ini sangat mudah.

10 menit pertama, tak ada perkembangan. Marwan tak bisa hafal “I saya, You Kamu” ini keterlaluan! Adikku saja yang baru berusia 3 tahun bisa berkata “I don’t know, kak” ketika dia tak tahu apa yang aku tanyakan. Ini Marwan kelas 5 SD, 10 menit tak juga bisa menghafal “I saya, You Kamu”

Aku mengajaknya berdiri dan menghafal dengan menggunakan gerakan. Mendekapkan tangan ke dada dan berkata “Ai”, menunjuk ke dia dan berkata “Yu” . Tampaknya ini berhasil. Ia hafal. Tapi ketika aku bertanya kebalikannya “bahasa indonesianya yu, apa?” ia bingung.

15 menit berlalu. Aku menambah kata-kata “She, dia perempuan, He dia laki-laki”. Agar mudah, aku menyuruhnya bergerak sambil menunjuk temannya di arah kiri yang perempuan.

“Jadi, apa artinya ‘she’ ?” tanyaku. Lamaaaa sekali dia berfikir. Terlalu lama, akhirnya aku memberi kode dengan menunjuk temannya yang perempuan. Masih juga dia bingung.

dia?” pancingku. “dia.. dia perempuan” jawab Marwan.

aku memakai tarian “I, You, She, He” sambil menunjuk objeknya agar Marwan lebih mudah mengingat. 30 menit berlalu. Marwan, meski terbata-bata dan lama, bisa menjawab “bahasa inggrisnya kamu, apa?” “hm…. y yu.” Tapi jika aku balik langsung “Yu, artinya apa?” ia tak bisa menjawab.

Waktu hampir habis. Akhirnya aku bertanya “Kamu pernah bermain ke kota tua?” “Sering kak” Jawabnya. Objek wisata sejarah ini memang dekat dengan SD.

Disana itu banyak banget loh bule yang ngomongnya pake bahasa inggris, kamu bisa dapet duit kl pinter bahasa inggris

Ah.. bohong kak!”

“Nah, ia benar, kamu bisa jadi tour guide, eh.. pemandu wisata maksudku” aku berusaha memilih kata yang mudah dimengerti. Marwan hanya diam.

Kamu kalau pintar bahasa inggris, bisa mengajak mereka keliling-keliling kota tua dan menjelaskan sejarah bangungan-bangunan tua itu pake bahasa inggris loh, soalnya mereka kan ga bisa pake bahasa Indonesia”  Di menit-menit terakhir aku lebih banyak memotivasi Marwan untuk belajar bahasa inggris. Waktu habis. Tugas tadi, menyusun kalimat, tak berhasil kami kerjakan, kami harus pindah ke pos lain.

Nah, malam ini aku merasa ada yang aneh di hatiku. Aku memejamkan mata merindukan kampung halamanku. Kemudian aku kembali teringat Marwan. Beruntungnya aku, ketika aku di usianya, aku bisa kursus bahasa inggris. Beruntungnya aku, di usianya aku bisa belajar di SD terfavorit di kotaku, pun begitu SMP dan SMA, bahkan bisa masuk kelas unggulan dan berprestasi cukup baik. Bukankah itu nikmat yang luar biasa?

Lebih beruntungnya aku, hanya dengan tes bahasa inggris dan matematika, aku bisa masuk 200 penerima beasiswa dari Universitas Bakrie. Ya, 2 pelajaran yang sangat sulit dipahami oleh Marwan. Marwan lagi. Kemudian aku teringat Dylan, murid privatku. Anak keturunan NewZealand-Filipina ini memintaku untuk mengajarnya matematika, tentunya dengan menggunakan bahasa inggris. Bayarannya sangat bagus, aku bisa mendapatkan ratusan ribu per sekali mengajar. Bukankah bahasa inggris dan matematika ini sangat bisa menghasilkan uang?

Aku teringat seorang guru yang diwawancara tadi siang yang mengatakan bahwa orang tua Marwan adalah pemulung (kerja kebersihan, kata Marwan). Wah, jika aku diminta untuk mengajar privat marwan dengan biaya Dylan, bisa stres orangtuanya. Biaya sekolah 25 ribu per bulan saja, mereka ngos-ngosan.

Tapi.. Apakah anak pemulung tak boleh pintar? Ada yang berbisik di hatiku. Kemudian bisikan ini semakin aneh.

Wai, kenapa tak kau ajar privat si Marwan?”

“meski orang tua hidup susah, anaknya harus pintar, itu kata Bapak, kan wai?”

“Wai, hari rabu kan ga ada kuliah, gimana kalau kamu mengajar Marwan setiap hari rabu sepulang dia sekolah? Ditambah hari minggu mungkin?”

Kemudian muncul lebih banyak kalimat aneh lainnya. Badanku lelah tapi otakku terus memunculkan pertanyaan-pertanyaan. Aku tak bisa tidur. Apakah karena sepotong hatiku tertinggal di Tambora, untuk Marwan?

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on February 25, 2012, in I am a Teacher. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. keren kak, semangat ya kak wai , berbagi itu indah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: