PENDIDIKAN SEKS USIA DINI: Usaha aktif pemerintah menekan pertumbuhan jumlah penderita HIV/AIDS

PROVINSI JAMBI MENDAPAT PERINGKAT 16 DI TINGKAT NASIONAL. Terdengar bagus jika peringkat tersebut adalah sebuah prestasi gemilang. Namun, faktanya, peringkat tersebut adalah peringkat dengan jumlah pengidap HIV/AIDS terbanyak ke-16 se-Indonesia. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Dr. Nafsiah Benboy, Spa, MPH, menyatakan bahwa hingga oktober 2011, ada 0.5% dari penduduk provinsi Jambi, 525 orang menderita HIV/AIDS, angka tersebut bahkan mengalahkan presentase nasional yang hanya mencapai 0.3%. Separah itu kah provinsiku?

Jumlah penderita meningkat semenjak tahun 2006. Jumlah penderita terbanyak ada di Kota Jambi, yang saat ini  tercatat ada 433 orang positif HIV, sedangkan sisanya tersebar di kabupaten-kabupaten. 70% penyebabnya adalah karena penyimpangan perilaku seksual. Bagaimana cara menanggulangi hal ini? Pada sebuah acara yang digelar pada 30 Oktober 2011 yang lalu, wakil gubernur Provinsi Jambi menuntut adanya pendekatan kekeluargaan dan pendekatan agama untuk mengatasi masalah ini.

Benar bahwa pendekatan agama dan kekeluargaan sangat dibutuhkan dalam permasalahan ini. Namun, ada perjuangan besar yang harus dilakukan dibalik pendekatan tersebut. Mencegah HIV tidak mudah seperti seorang Ibu melarang anaknya membeli makanan di pinggir jalan depan sekolahnya agar tidak sakit perut. Ibu bisa saja menjelaskan bahayanya jajanan di pinggir jalan, tetapi kalau jajanan itu terlihat enak dan si anak penasaran untuk mencoba, apa yang bisa dilakukan ibu untuk memastikan anaknya tidak mencoba jajanan yang salah?

Hai Kawan! Sadar lah! HIV/AIDS itu bukan penyakit biasa. HIV bukan Flu yang bisa menular cepat dan bisa sembuh dalam beberapa hari. Si pembawa virus HIV tidak pilek, tidak membawa tisu atau saputangan, seperti terlihat pada orang yang kena Flu. Dia terlihat Sehat! Benar-benar sehat, setidaknya sampai 5 atau 10 tahun semenjak ia dinyatakan positif HIV. Bahayanya, dalam 5 tahun kondisi sehatnya itu, virus bisa menular kepada siapa saja melalui jarum suntik, berhubungan badan, dll.

Saya merasa beruntung ketika SMA sempat masuk ke sebuah komunitas yang peduli terhadap kesehatan reproduksi remaja, yaitu klub DAKU! Dunia Remajaku Seru!. Di dalam komunitas ini para remaja diberikan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi remaja. Saat itu membicarakan kondom dan seks masih dianggap tabu memang, pun sampai sekarang saya rasa masih tabu, tetapi haruskah kita harus terus menganggap pendidikan seks itu tabu ketika banyak remaja yang sudah berani diam-diam berkencan bahkan berhubungan seks?

Klub DAKU! adalah salah satu klub yang diadakan oleh LSM bekerja sama dengan SMA, untuk mengajarkan tentang kesehatan reproduksi seksual remaja, penyakit-penyakit seks, pencegahan, bahkan sampai menanamkan pengertian kepada para remaja untuk tidak mendiskriminasi para ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) serta mengajarkan remaja untuk lebih kreatif dalam mebuat target hidup. Pelajaran tersebut dibagi menjadi beberapa modul yang diajarkan satu kali per minggu. Setelah modul tersebut selesai, remaja diminta untuk membuat sebuah pameran mengenai topik-topik yang telah dibahas.

Banyak simulasi yang dilakukan, baik di dalam kelas, maupun di luar kelas, salah satunya adalah para peserta kelas DAKU! diminta berpasangan membeli kondom di apotek mana saja yang tidak mereka kenal penjualnya, dan mereka dilarang untuk memberi tahu maksud mereka membeli kondom tersebut. Hasilnya, sebagian besar peserta gagal membeli karena ketika sampai di apotek mereka merasa malu.

Bayangkan bagaimana jika hal tersebut terjadi di dunia nyata? Sepasang remaja yang tidak memiliki pengetahuan tentang bahayanya HIV, tidak tahu apakah pasangannya sehat atau tidak, dan iman mereka tidak kuat, kemudian ingin melakukan hubungan seks; lalu mereka lakukan saja tanpa pengaman seperti kondom? Virus itu bisa saja menular! Hasilnya? Sampai September 2011, 10 orang bayi positiv mengidap HIV, itu adalah anak hasil dari orang tua yang mengidap HIV. Bagaimana anak tak berdosa ini lahir dengan kondisi HARUS siap untuk mati?

Di Jambi masih sangat sedikit sekali sekolah atau LSM yang memberikan edukasi seks kepada remaja; banyak alasan, salah satunya karena masih tabu. Padahal ini penting, mengingat pergaulan saat ini semakin bebas. Remaja, selain diperkuat imannya, juga harus diperkaya pengetahuannya

Essay ini saya tulis sebagai salah satu syarat untuk menjadi Parlemen Muda Indonesia perwakilan provinsi Jambi, oleh karena itu dalam essay ini saya hanya akan membahas saran untuk pemerintah dalam menekan pertambahan jumlah pengidap HIV di Provinsi Jambi mengingat adanya keterbatasan panjang essay.

Saya menyarankan kepada pemerintah untuk berperan aktif, tidak hanya menuntut pendekatan keluarga dan agama. Sebaiknya pemerintah membuat modul khusus dan bekerja sama dengan LSM pemerhati HIV/AIDS untuk mengajarkan remaja di SMA mengenai kesehatan reproduksi seksual. Modul ini dibuat semenarik mungkin agar tidak membosankan seperti mempelajari bab kesehatan reproduksi di buku pelajaran Biologi.

Klub Daku! Adalah satu contoh yang unik karena mereka mengajarkan dengan cara yang menarik, tidak vulgar. Remaja tidak hanya duduk diam memperhatikan di kelas, tetapi juga melakukan simulasi, games, dan berbagai teknik lain untuk menyampaikan pelajaran, sehingga kelas menjadi seru, tidak tabu seperti membicarakan seks pada umumnya.

Ada baiknya pemerintah mengeluarkan dana sendiri dan membuat kebijakan untuk menambah ekstrakurikuler wajib di sekolah berupa Pendidikan Seks Usia Dini. Remaja SMA/sederajat dibekali pemahaman tentang penyakit seksual, bagaimana penularannya, bagaimana pencegahannya, dan bagaimana mengerikan dan bahayanya penyakit-penyakit yang dapat mengancam masa depan mereka tersebut. Dengan demikian, remaja memiliki pemahaman tentang seberapa mengerikan penyakit-penyakit seksual sehingga mereka pun akhirnya menjadi lebih waspada. (/wai)

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on December 1, 2011, in Pemikiran Sakti Wai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: