School Social Responsibility (SSR): Pilihan solusi bagi kesenjangan pendidikan

Corporate Social Responsibility (CSR) sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Setiap perusahaan memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan sosial bagi seluruh pihak yang berkepentingan (stake holder) dari perusahaan tersebut.

Bisakah sistem itu diadaptasi menjadi School Social Responsibility (SSR)? Ide ini muncul untuk menjawab riuhnya permasalahan kesenjangan pendidikan di Provinsi Jambi. Sebaiknya ada tanggung jawab sekolah-sekolah yang sudah mapan untuk melakukan kegiatan yang mendorong perkembangan sekolah yang tertinggal.

(Sebagai kandidat dari Provinsi Jambi, saya akan mengajukan solusi ini kepada pemerintah dalam Sidang Parlemen Muda Indonesia, Januari 2012, untuk mendukung saya, silahkan like pagefacebook saya Jambi 2 Juwairiyyah_Parlemen Muda)

 

Kesenjangan pendidikan bukanlah masalah baru. Sudah lama masyarakat Indonesia terjebak dalam permasalahan rumit terkait  perbedaan kualitas, fasilitas, dan aspek lain terkait askses mendapatkan pendidikan yang layak. Beberapa sekolah di suatu provinsi bisa saja memiliki fasilitas lengkap yang menunjang proses belajar siswanya, sementara di daerah lain, masih dalam provinsi yang sama, untuk bisa sekolah pun sudah sangat susah. Gawatnya, di akhir masa sekolah, mereka dihadapkan dengan Ujian Akhir Nasional yang sama.

Salah satu contoh, SD 194 Tambang Emas, Kecamatan Pemenang Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi; saat ini masih kekurangan ruang kelas dan buku di perpustakaan, parahnya sejak sekolah ini berdiri pada tahun 1981 hingga kini belum ada bantuan dari pemerintah sama sekali, padahal bantuan tersebut sudah diajukan sejak tahun 2009.

Kondisi berbeda dapat dilihat di sekolah swasta di kota Jambi, SD Islam Alfalah Jambi misalnya. SD yang dikelola oleh yayasan itu memiliki fasilitas yang lengkap, seperti laboratorium komputer, lapangan yang luas, dan tentunya perpustakaan dengan banyak buku.

Masalah lainnya adalah bahwa baru 86% anak Jambi yang mendapat pendidikan hingga tingkat SMP dan hanya 56% saja yang bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Tingkat Universitas lebih rendah lagi, hanya 12,8%, berdasarkan data yang didapat dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi tahun 2010.

Memang benar bahwa program pemerintah adalah wajib belajar hanya 9 tahun, tapi kualitas sumber daya manusia yang hanya lulusan SMP akan jauh lebih rendah daripada mereka yang lulus SMA, S.1, dst; apalagi sebentar lagi Indonesia akan masuk ke pasar bebas, dimana saingan lulusan kita bukan hanya dari satu provinsi yang sama, melainkan orang-orang dari luar negeri yang bebas bekerja di Indonesia dengan berbagai sertifikasi keahlian. Oleh karena itu, kualitas masyarakat Indonesia, terutama di Provinsi Jambi harus ditingkatkan.

Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam menghadapi persoalan ini. Salah satu pilihan solusi dari persoalan ini adalah dengan menggalakkan program School Social Responsibility (SSR), yaitu bentuk tanggung jawab sekolah-sekolah yang sudah mapan dengan fasilitas lengkap untuk membantu sekolah-sekolah yang menghadapi kesulitan fasilitas pendidikan dan juga anak-anak yang putus sekolah.

Konsep SSR sederhana, seperti seorang kakak yang membimbing adiknya dalam mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR).  Seorang adik harus menjelaskan dulu apa kesulitannya dalam mengerjakan PR tersebut, kemudian kakak dan adik bekerja sama menyelesaikannya. Kakak merupakan analogi bagi sekolah-sekolah yang sudah mapan, sementara adik merupakan analogi bagi sekolah dan masyarakat yang memiliki keterbatasan akses untuk pendidikan.

Bantuan dari Program SSR dibagi menjadi 2 kategori, yaitu SSR berwujud materi dan non materi. Isi dari bantuan itu ditetapkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. Contoh kegiatan yang bisa dilakukan dalam SSR materi adalah Book for Jambi dan studENTrepreneur. SSR dalam bentuk non materi adalah We Share.

Rata-rata setiap tahun ajaran baru, siswa di sekolah-sekolah yang sudah mapan membeli buku pelajaran baru, sementara buku-buku lama disimpan di gudang, ketika lulus mereka bingung mau menyerahkan buku itu kepada siapa. Di sini, ada potensi buku tersebut untuk disumbangkan, Namun, tidak adanya informasi yang jelas, membuat kebanyakan alumni menjual bukunya kepada  tukang loak. Book For Jambi adalah solusi untuk masalah ini.

Jika sudah ada kesepakatan antara sekolah yang mapan dengan sekolah yang memerlukan bantuan, buku-buku atau perlengkapan sekolah yang lain itu bisa didistribusikan dengan baik. Sekolah membuat daftar buku-buku apa yang mau disumbangkan kemudian sekolah pasangannya memberi informasi berapa banyak kebutuhan mereka akan buku pelajaran atau pun peralatan sekolah yang lain.

Selain itu, sekolah yang mapan bisa membuat program studENTrepreneur (Student Entrepreneur), yaitu sekolah membuat seperti kelompok-kelompok usaha siswa, untuk menciptakan usaha kecil-kecilan, tentunya dengan pengawasan dan bimbingan dari sekolah. Sebagian dari keuntungan itu disumbangkan kepada sekolah yang kurang mapan. Program ini bermanfaat bagi kedua pihak, yaitu untuk menciptakan calon entrepreneur bagi Jambi, dan untuk mempercepat peningkatan pendidikan.

Program SSR non materi adalah We Share. Contoh aplikasi dari program ini adalah berupa guru dan siswa dari sekolah yang sudah mapan mendampingi siswa dari sekolah lain, atau anak-anak yang putus sekolah. Ada kelas informal bagi mereka untuk bertemu, bisa seminggu sekali di akhir pekan, untuk berbagi kisah, berbagi motivasi, serta jika dimungkinkan siswa sekolah yang mapan menjadi tutor untuk mengajar siswa dari sekolah yang lain. Kelas informal ini juga bisa dibuka untuk membantu anak-anak yang putus sekolah belajar sehingga mereka bisa mengejar ketinggalan mereka dengan mengejar ujian paket.

Program-program tersebut bisa dijalankan dengan syarat ada koordinasi yang jelas antar sekolah. Pemerintah sebaiknya membuat kebijakan khusus yang mengatur SSR, seperti kriteria sekolah mapan, kriteria sekolah yang membutuhkan bantuan, dan hubungan antar sekolah. Terkait detail dari pelaksanaan SSR itu sendiri, sebaiknya diserahkan kepada masing-masing sekolah sesuai dengan kreativitasnya masing-masing, disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan yang ada. Dengan demikian, akan terjadi kompetisi sehat antar sekolah dalam mewujudkan kepedulian dan tanggung jawab sosialnya secara maksimal.  (wai)

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on October 29, 2011, in Pemikiran Sakti Wai. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: