Kuliah, Organisasi, atau Pekerjaan


Hp ku bergetar, sebuah nomor yang tidak terdapat di kontak menelfon. Terlambat kuangkat, ternyata panggilan sudah terputus. Kulihat layar hp lagi, ternyata sebelumnya nomor itu telah 3 kali berusaha menelfonku. “Siapa?” tanyaku dalam hati yang kutuangkan lewat sms ke nomor itu. Hanya beberapa detik setelah sms itu terkirim, nomor itu menelfonku lagi.

“halo?” aku menjawab telfonnya.

“Hello Juwai! I’m Dylans Dad” aku kenal suara dan bahasanya. Dia adalah Mr. Green, ayah dari Dylan, murid kelas 3 SD yang dulu sempat kuajar privat. Ayahnya adalah orang Newzealand dan ibunya orang Filipina. Juli 2010 lalu mereka pindah ke Indonesia karena pekerjaan ayahnya, mereka biasa seperti itu. Berpindah negara membuat Dylan harus berusaha terus untuk menyesuaikan pelajarannya. Ketika itu aku diminta menjadi guru privat untuk mengajar Matematika dan IPA  setiap hari agar Dylan bisa menyiapkan ujian masuk SD Internasional di Indonesia, tentu saja dengan bahasa Inggris karena mereka tak bisa berbahasa Indonesia.

Terakhir aku mengajar Dylan adalah agustus 2010, sekarang sudah februari 2011, ternyata waktu berlalu begitu cepat. Ada apa ayah Dylan menelfonku? Tanyaku dalam hati. Tak butuh waktu lama, aku langsung menanyakannya langsung kepada Mr. Green yang masih menelfonku itu.

Percakapan kurang lebih 15 menit di telfon tadi membuatku cukup kaget. Dylan ternyata kecelakaan dan membuat kedua tangannya patah. Entah bagaimana aku bisa merasa sedih. Dylan hanya muridku 1.5 bulan, tapi aku merasa kami sangat dekat, seperti adikku sendiri. Mr. Green mengatakan bahwa mereka telah membawa Dylan berobat ke Singapura dan dokter menyatakan bahwa tangannya tak bisa digerakkan dalam waktu paling sedikit 6 minggu. Hal itu membuatnya tak bisa melakukan aktivitas sekolah seperti biasa, ia butuh home school. Untuk itulah Mr. Green menelfonku.

Jika aku bersedia, aku akan dikontrak  sebagai guru privat Dylan, kerjasama dengan Newzealand International school. Setiap hari aku harus mengajarnya. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus sekali. Selain gajinya yang lumayan banyak, yang lebih bagus adalah aku bisa menjalin hubungan baik dengan sekolah tersebut. Tentu saja itu sangat baik untuk memperluas networking dan mempertebal kantongku. Hehe..

Aku menyanggupi permintaan Mr. Green untuk datang ke rumahnya Sabtu ini membicarakan hal tersebut. Sesaat kemudian, aku mulai panik. Gila! Teriakku dalam hati. Astaghfirullahaladzim! Keputusan apa yang telah aku ambil? Apa aku tidak gila? Bagaimana dengan organisasiku? Bagaimana dengan tawaran untuk menjadi asisten dosen semester ini? Bagaimana dengan kuliah 10 kelas per minggu ku? Bagaimana dengan IP ku?????

Baiklah, mungkin aku belum bercerita. Aku adalah mahasiswa universitas Bakrie jurusan manajemen angkatan 2009. Di smester 4 nanti (sekarang sedang libur setelah smester 3), aku mengambil 22 Sks, 7 mata kuliah dan 3 praktikum setiap minggunya. Itu akan menyita waktu banyak dari senin sampai jumat. Targetku adalah di smester ini aku bisa menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Applied business computation karena dulu dosenku sempat memintaku untuk menjadi asdos mata kuliah tersebut. Aku sudah mempersiapkan diri untuk kesibukan itu, ditambah dengan kesibukan organisasi. Sebagai ketua UKMA (Unit Kegiatan Mahasiswa) Jurnalistik, aku punya tanggung jawab untuk melaksanakan program kerja yang telah aku susun sejak Desember 2010 lalu. Belum lagi kegiatanku di UKMA teater, bagiku mereka adalah keluarga. Ada pula Kampung Dongeng, organisasi di luar kampus yang merupakan sebuah komunitas anak-anak yang dikelola oleh Kak Awam. Aku sangat menyukai semua kegiatan itu.

24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan.. Semua kita diberi jatah waktu yang sama, aku tak bisa membeli 1 detik waktu milikmu, itu masalahnya. Untuk setumpuk kegiatan itu, aku harus benar-benar menyusun skala prioritas. Sebagai mahasiswa penerima beasiswa, aku harus terus mempertahankan IPK ku diatas 3.00 agar beasiswa tidak dicabut, tapi targetku adalah diatas 3.5; sudah lama juga aku bersiap untuk menjadi asisten dosen, dan di semester ini bisa tercapai; tapi aku juga menyukai kegiatanku di dalam organisasi. Dulu aku sudah meninggalkan komunitas 1001 buku, dan sebentar vakum di sahabat anak. Apa aku harus meninggalkan yang lain juga? Ah.. jangan sampai.

Di dalam Jurnalistik ada TV kampus, dan dalam waktu dekat kami akan mengadakan pelatihan membuat film dari salah satu TV swasta yang cukup terkenal di Indonesia. Teater tentu juga akan menyita banyak waktu mengingat maret ada banyak permintaan untuk mentas. Apalagi kampung dongeng, semakin besar saja sekarang, dan semakin banyak kegiatan dengan anak-anak, salah satu radio meminta rekaman kami mendongeng, sebuah peluang besar untuk pemula sepertiku.

24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan.. apa masih ada waktu untuk mengajar Dylan? Aku cemas. Mr. Green mengatakan bahwa aku tak perlu khawatir tentang transportasi ke apartemen mereka, akan ada sopir yang akan menjemputku kesana. Oh! Bukan transportasi masalahnya!! Waktu.. waktu adalah hal yang paling mahal karena ia tak bisa dibeli.

Ia memintaku untuk mengajar Dylan setiap hari, paling sedikit 6 minggu. Bagaimanalah? Kuliahku yang 10 kelas perminggu dan tugas-tugasnya kurasa sudah menyita banyak waktu. Belum perhitungan rapat organisasi di kampus atau waktu latihan teater, atau kegiatan kampung dongeng. Mengajar Dylan benar-benar menjadi sebuah tantangan gila.

Ah, tapi aku tak mungkin menyianyiakan kesempatan ini.

Di dalam setiap permainan tentu ada tantangan berat yang harus dilalui untuk bisa masuk ke level yang lebih tinggi. Tantangan di level selanjutnya tentu akan lebih susah daripada level sebelumnya. Bagiku, hidup terdiri dari level yang harus dilalui. Di dalamnya ada pilihan apakah aku mau naik ke level yang lebih berat, tetap pada level yang sekarang, atau bersantai di level bawah yang lebih mudah.  Bukankah di semester 3 kemarin aku berhasil kuliah dengan kegiatan gila organisasiku? Bukankah Ipku aman kemarin? Artinya Tuhan sedang mengujiku untuk naik ke level yang lebih sulit di semester 4.

Baiklah, ini hanya soal naik level selama 6 minggu pertama di semester 4. Aku harus melaluinya dengan sukses. Hey Juwai! Orang tuamu adalah orang tua yang luar biasa, harusnya kau pun setangguh mereka!! Semangat! Ambil tantangan ini! Selamat Menikmati semester 4!!!

BISMILLAAH!!!

KULIAH, ORGANISASI, ASDOS, PRIVATE TEACHER—4 TANTANGAN DI SEMESTER 4!!

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on February 16, 2011, in Metamorfose Kuliah Wai. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Ada ungkapan bahwa hidup adalah suatu pilihan walaupun seringkali dalam kehidupan, kita tidak dapat memilih sebab semuanya sudah menjadi ketentuan atau takdir dari ilahi. Namun minimal, sebelum kita tahu bagaimana takdir kita nantinya, tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk memilih bagaimana jalannya takdir kita sekarang dan masa depannya nanti bahkan hingga ajal menjemput.

    Kuliah, Organisasi, atau Pekerjaan:
    Ketiganya adalah sebagian kecil atau mungkin awal sebuah pilihan yang akan menjadi penentu bagi kehidupan masa depan Juwai.

    Minimal ada suatu ingatan yang mungkin akan menjadi dasar dalam pilihan Juwai jika saat ini atau mungki di semester semester berikutnya muncul 1 bahkan ribuan pilihan lainnya, yaitu Semangat Orang Tua.
    TTD
    Papa Riziq

  2. Nelly Hassani Rachmi

    Excellent ka! aku ampe kaget2 bacanya hebat hebat. kakak itu orang hebat salut aku hhe😀

  1. Pingback: Another Story « Waididudidam's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: