Mahasiswa Bakrie Menanggapi Respon Masyarakat tentang Lumpur Lapindo

XX : “hei, mahasiswi di univ. bakrie ya…eem, bakrie dapat salam tu dari masyarakat korban lumpur lapindo.

(bagaimana kita–mahasiswa Universitas Bakrie–menganggapi komen  tersebut???)


3 Bulan libur semester adalah waktu yang cukup lama. Saya mengisinya dengan berbagai macam aktifitas. Menjadi guru privat bagi seorang anak yang berkebangsaan New Zealand untuk membantunya menyesuaikan diri di sekolah barunya di Indonesia, Magang di bidang marketing online di Vivanews, melakukan aktivitas bersama komunitas 1001 buku dan Sahabat Anak di akhir pekannya, ikut berbagai seminar dan workshop, dan banyak kegiatan lainnya.

Kegiatan-kegiatan ini lah yang membuat saya bertemu dengan orang-orang baru dan harus memperkenalkan diri menggunakan identitas Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Universitas Bakrie. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, ada berbagai macam respon baik positif dan negatif terkait dengan identitas tersebut, salah satunya terkait dengan kasus lapindo.

Banyak sekali yang menyindir saya soal lumpur lapindo dan kasus pajak perusahaan Bakrie.

“mahasiswa Bakrie ya? Tolong bilangin ke Pak Ical ya, dapat salam dari masyarakat Sidoarjo atau ada pula “suruh bayar pajak tuh perusahaannya”

Ini benar-benar membuat saya berfikir bagaimana cara yang “pas” untuk menanggapinya. “pas” berarti netral, tidak berpihak kepada keluarga Bakrie walaupun saya kuliah di U.B, tidak juga berpihak kepada masyarakat dan ikut mencemooh keluarga Bakrie.

Suatu sore, ketika saya sedang menyebarkan link berita dari vivanews.com melalui media jejaring sosial facebook, sebuah komen unik muncul dibawah berita itu, komen yang sama sekali tidak berkaitan dengan berita yang saya sebarkan. Komen tersebut datang dari akun seorang mahasiswi yang berkuliah di salah satu universitas di Jambi, XX (nama disamarkan).

Berikut komen singkatnya

XX : “hei, mahasiswi di univ. bakrie ya..eem, bakrie dapat salam tu dari masyarakat korban lumpur lapindo.

Saya : “hahaha..ga bisa titip salam mbak..”

XX : “titip dosa aja, bisa kan..”

Kalau dialog ini adalah dialog langsung tatap muka, saya bisa menanggapinya dengan candaan biasa. Namun, komen ini adalah komen tertulis di salah satu jejaring sosial yang digunakan oleh jutaan orang di seluruh dunia. Apa yang saya tulis bisa dibaca oleh lebih dari seribu orang yang sudah menjadi teman di akun facebook saya itu.

Mungkin maksud dari XX itu adalah sebuah candaan yang menyindir. Di satu sisi, saya membenarkan candaannya, karena memang saya juga adalah bagian dari masyarakat, walau tidak berasal dari Sidoarjo, paling tidak saya adalah rakyat Indonesia yang juga turut merasakan kesengsaraan mereka.

Tapi di sisi lain, saya tidak mungkin membiarkan orang ikut menertawai candaannya itu karena saya juga merasa bagian dari keluarga bakrie—Universitas Bakrie. Sudah sepantasnya saya mengharumkan nama kampus yang memberikan saya fasilitas untuk menuntut ilmu ini. Selagi saya mencari jawaban atas komentar dia, teman saya yang lain ikut pula memberi komentar

(sambungan)

XX : “titip dosa aja, bisa kan..”

YY : “langsung ae kirim lewat email e bakrie brother mbak.. hehe”

XX : “iya udah, tapi gag ditanggapin..sedih yaq..sebegitu susah nya bicara dengan orang paling terkaya.”

saya:

astaghfirullah…
kamu bukan Tuhan, mbak,,
gak berhak menjudge orang berdosa atw gak..
saya berusaha netral menanggapi kata2 mbak….

sebelum ngomongin sesuatu kyk gitu, sebaiknya cari fakta dulu.

“menurut Rudi Novianto, mantan anggota Tim Nasional Penangulangan Lumpur Lapindo Sidoarjo, yang dihubungi RRI pagi ini menyampaikan, lumpur lapindo adalah suatu bentuk bencana alam, sebab para ahli tidak bisa membuktikan ini sebagai kesalahan manusia atau bencana. Selain itu semburan lumpur tidak terjadi di titik pengeborabn, namun sekitar 150 meter dari titik pengeboran. Jadi pengeluaran Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) itu cukup beralasan.

Rudi Novianto mengatakan, Lapindo sejauh ini sudah melaksanakan tanggung jawab moral sebagai pemilik perusahaan terhadap masyarakat sekitar, meski proses hukumnya belum terbukti, sebab memang sulit dibuktikan.

Jadi menyangkut pembayaran ganti rugi bagi para korban lumpur lapindo adalah tergantung pemerintah, apakah tetap di tanggung Lapindo atau pemerintah sendiri. Namun menurut Rudi Novianto, yang terpenting bagaimana korban lumpur Sidoarjo tidak terlantar dan dapat hidup layak.”

Saya berusaha memberi pengertian tentang kasus ini kepada XX, tetap dengan berusaha menjadi netral. Kemudian XX menanggapinya (entah ini bercanda atau tidak)

XX : “ makasi ya mbak,sudah mengingatkan saya. Tolong, katakan itu pada mereka yang jadi korban mbak. Semoga mereka percaya.”

Pembicaraan ini semakin aneh, bagi saya. Aneh, ya, aneh karena dia meminta saya untuk mengatakan fakta itu kepada para korban lumpur lapindo. Lho,kenapa saya yang harus mengatakannya? Bukankah kita sudah punya media informasi? Lalu komentar “semoga mereka percaya”, menunjukkan bahwa seperti sulit sekali menjelaskan fakta ini kepada mereka. Apakah korban lumpur Lapindo ini sudah terlalu sering mendengar omong kosong sehingga mereka sulit mempercayai fakta-fakta yang disebarkan media?

Kemudian saya jawab:

“saya cuma mahasiswa..
bakrie memberikan saya beasiswa dan fasilitas mewah ini bukan dengan tujuan untuk membela mereka, tapi untuk menciptakan intelek bangsa..
BUKAN KEWAJIBAN SAYA untuk menjelaskan kpd korban2 tentang berita itu karena kita punya banyak media cetak dan elektronik…
BUKAN URUSAN SAYA untuk mencemooh atau membela bakrie, karena saya tidak sedikitpun dilibatkan dalam urusan itu,
sekali lagi, saya cuma mahasiswa, bagian dari masyarakat..
anggap beasiswa yang saya terima ini sebagian kecil dari usaha bakrie untuk membangun negeri..
smoga saya, dan mahasiswa lain, tidak hanya di bakrie, tapi di seluruh Indonesia, bisa membangun negeri ini..
menurut saya,
yang sebaiknya saya lakukan adalah bagaimana mengajak teman2 mahasiswa lainnya, dimanapun, untuk ikut berusaha membangun negeri..
TIDAK HANYA BERKOMENTAR DAN DEMONSTRASI ANARKI,
TAPI BERTINDAK UNTUK MEMBANGUN NEGERI”
Indonesia sudah cukup lelah menghadapi masalah-masalahnya. Korupsi, Kemiskinan, pengangguran, terorisme, dan banyak bencana alam.

Yah… itulah salah satu kisah saya…

Silahkan cek yang lain..

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on February 8, 2011, in Dan Lainnya, Metamorfose Kuliah Wai and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: