Untuk Seluruh Ibu Yang Luar Biasa di Dunia…

Untuk ibuku, ibu dari ibuku, ibu dari neneku, ibu dari ibu nenekku, dan seluruh ibu yang luar biasa di dunia ini..

Wahai Allah yang Maha Penyayang,  Hanya Engkau dan Ibu kami yang mengetahui betapa sulitnya membawa kami kemana-mana selama 9 bulan. Segala Puji bagi Engkau Yang telah memberikan kekuatan kepada ibu kami untuk menahan rasa sakit yang bertambah-tambah setiap harinya ketika mengandung. Padahal saat itu Beliau belum pula mengetahui apakah nanti anaknya  akan rela berkorban setiap hari untuknya atau tidak.

Wahai Allah Yang Maha Pengasih, Hanya Engkau dan Ibu kami yang mengetahui bagaimana sakitnya melahirkan kami. Segala Puji bagi Engkau Yang telah mendampingi ibu kami mempertaruhkan nyawanya di saat ingin memperlihatkan dunia untuk pertama kalinya kepada kami, padahal saat itu ia pun tak tahu akan jadi anak durhaka atau berbaktikah kami nantinya.

Wahai Allah, Engkaulah Yang Maha Mengetahui berapa banyak ibu kami tak tidur di malam hari karena ia tak tega jika kami terbangun ketika kami masih begitu rapuh. Pahahal saat itu pun ia tak pernah tahu akankah kami rela menjaganya nanti ketika ia sudah tak berdaya lagi.

Wahai Allah, Engkaulah Yang Maha Mengetahui bagaimana wanita mulia itu begitu mencintai kami melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, bahkan ketika kami sakit beliau rela memindahkan rasa sakit itu ke dalam dirinya jika bisa. Padahal, saat itu juga ia tak tahu akankah anaknya akan merawatnya ketika ia sakit.

Wanita mulia itu terbangun sebelum fajar untuk menghadap kepadaMu, kemudian menyiapkan sarapan untuk kami. Setelah itu, kami tak berucap terima kasih karena sudah terburu-buru pergi ke sekolah. Tak ada beliau marah, malah berucap doa semoga kami menjadi anak yang cerdas dan selalu dalam lindunganMu.

Wanita mulia itu menyiapkan makanan terbaik untuk kami, tak bisa kami membantunya memasak karena waktu kami habiskan di sekolah. Kemudian kami tak mau makan karena tak suka makannya, berapa kali kami memilih membeli makanan di luar dan meninggalkan makanan buatannya dingin di meja makan. Tak pula beliau marah, malah terus berucap doa semoga kami selalu sehat dan apa pun yang kami makan menjadi berkah.

Ketika kami lulus sekolah, sudah saatnya menuntut ilmu lebih tinggi. Terus saja menyemangati kami untuk pergi, meski ia sebenarnya setiap hari ia akan semakin membutuhkan kami disisinya. Ia mulai menua dan fisiknya mulai melemah, ketika itu ia berkata,  ibu tak apa.. demi cita-citamu pergilah..

Kami lihat fisiknya tak sekuat yang dulu, usia terus berusaha mengambilnya dari kami. Engkau Yang Maha Mengetahui, Ia tak pernah menunjukkan kelemahannya di depan kami, tak pernah mengeluh

Ternyata fisiknya tak sekuat yang dulu, beberapa kali ia sakit. Tak ada ia menelepon kami untuk menceritakan sakitnya. Ia tak ingin mengeluh di depan anaknya karena tak ingin mengganggu konsentrasi kuliah kami. Jauh di seberang, kami sedang tertawa dengan teman kuliah kami.

Ia selalu berdoa semoga kami kuat dan mampu berdiri sendiri tanpa beliau disisi kami, dan berdoa semoga kami selalu diberi kemudahan di setiap urusan kami, semoga kami diberi kesehatan, semoga kami sukses dan cita-cita serta keinginan kami tercapai, dan banyak doa lainny menyertai kami; Apakah ada kami berdoa untuknya setiap hari?

Akhirnya doa wanita mulia itu terkabul.Ketika nanti kami tlah menjadi sukses, cita-cita kami tlah tercapai, baru kami menyadari, fisiknya sudah terlalu lemah.

Baru kami mau membuatkannya makanan enak seperti apa yang ia lakukan dulu untuk kami, tapi giginya sudah tak kuat lagi  untuk menikmati makanan itu. Lidahnya sudah menua tak bisa merasakan makanan seenak dulu lagi.

Baru saja kami mau mengajaknya berkeliling untuk sekedar menikmati indahnya alam seperti yang ia lakukan dulu kepada kami, tapi ternyata saat ini matanya tak sejelas yang dulu. Ia tetap tersenyum untuk kami. Tapi ternyata tubuhnya sudah tak kuat lagi untuk itu..

Dan…

BARU SAJA KAMI MAU MENGAJAKNYA MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA, SEKEDAR MENUNJUKKAN PADANYA BAHWA DOANYA TELAH TERKABUL, DAN AKU TELAH SUKSES, AKU TERSADAR, BAHWA WAKTU TAK BANYAK LAGI YANG TERSISA..

DAN KETIKA ITU, KAMI MENYADARI BAHWA WAKTU ADALAH SESUATU YANG PALING BERHARGA..

“wahai Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, sayangilah ibu kami, ibu dari ibu kami, ibu dari nenek kami, dan semua ibu yang luar biasa di dunia ini.. seperti mereka menyayangi kami sedari kami belum berwujud hingga saat ini. Lindungilah ibu kami seperti mereka melindungi kami  ketika kami tidur ataupun terjaga.”

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on January 25, 2011, in Dan Lainnya, Metamorfose Kuliah Wai, Proyek Sastra Wai. Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Tulisan yang sangat bagus. Mengharukan. Jujur aku berkaca-kaca membacanya. Terima kasih kawan telah mengirimkan tulisan indah ini.
    🙂 Salam kenal.

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/
    http://notulabahasa.com/
    http://piguranyapakuban.deviantart.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: