Aku takut pulang

Tiket sudah ditangan. Pesawat Boeing 734 Lion air dengan nomor penerbangan 604 akan membawaku ke Jambi pukul 11.45, 28 Januari 2011 nanti. Semua kesakitan karena rindu yang ku tahan selama ini akan segera berakhir. Senyuman adik kecilku nasywa yang kemarin hanya kulihat dalam mimpi atau hanya melalui videocall, sebentar akan kulihat secara langsung. Ya, sebentar lagi, hanya 18 hari lagi. Tapi entah kenapa.. tiba-tiba mucul perasaan aneh dalam diriku: aku tak mau pulang.

Ironis, aku—yang selama ini meringis karena sangat ingin pulang ke jambi—kali ini malah ingin membatalkan rencana kepulanganku. Ada apa? Apa aku tak lagi rindu? Rindu tentu saja. Malah rindu sekali. Rinduku tak pernah sedikitpun berkurang, malah terus bertambah. Lantas? Kenapa aku tak ingin pulang? Bukan aku tak ingin bertemu dengan keluargaku. Sekali lagi, bukan begitu. Aku sangat rindu dan aku sangat ingin bertemu. Jika rindu ini adalah penyakit, maka aku sudah berada pada stadium akhir.

Jadi kenapa muncul perasaan aneh tak ingin pulang ini?

Begini, aku sangat menyayangi adik kecilku. Kau bisa bayangkan betapa lucunya seorang balita berusia 2 tahun. Biasanya kami memulai pagi dengan berjalan keliling komplek sekedar melihat bunga atau kupu-kupu. Ia senang sekali mengenal alam barunya. Seharian jangan kau tanya lagi, pastilah ada dia selalu di dekatku. Bahkan aku ke toiletpun, dia menunggu di depan pintu. Ceriwis mulutnya yang baru pandai bicara itu membuatku geli ketika mendengar ia mengucapkan beberapa kata dengan belum sempurna. Ketika malam pun kami akan terlelap bersama. Tertawanya yang renyah akan membangunkanku subuh nanti . Itulah adikku, nasywa.

Kenangan liburan semester lalu itu tak bisa ku lupakan; Terus saja membayangi setiap malam sunyi di kosanku. Sesaat kami bertemu di dalam mimpi, tapi aku kecewa ketika terbangun dan tak melihatnya disisiku. Aku rindu. Nasywa pun begitu. Ia tak mengerti bagaimana mengatakan kerinduan. Hanya layar HP yang ia ciumi ketika melihat wajahku saat videocall. Ia memanggilku dan mengajak bermain bersama. Rupanya ia tak mengerti aku berada di Jakarta dan Ia di Jambi. Sesekali ia mengigau memanggilku. Mungkin itu cukup untuk mengatakan bahwa ia sudah sangat merindukanku. Aku ingin pulang. Dan ini hampir tiba lagi waktu liburan semester 3. Aku senang, semakin cepat libur, semakin cepat aku kembali bertemu dengan bidadari kecilku itu.

Entah kenapa sekarang aku malah ragu. Bagaimana menjelaskannya ya.. aku tak mau pulang. Em.. lebih tepatnya.. aku takut pulang. Ya, aku T.A.K.U.T  pulang. Aku takut melihat senyumnya lagi. Aku takut mendengar tawa renyahnya. Aku takut dipeluknya. Aku takut tidur di sampingnya. Aku takut jalan pagi bersamanya. Aku takut bermain dengannya. Aku takut. Aku takut. Aku takut jika aku pulang ke Jambi lagi, sayangku untuknya akan bertambah. Itu kelak akan berdampak buruk ketika waktu liburanku sudah habis. Kau tau kan, aku hanya punya 3 minggu untuk libur semester ini. Aku takut waktuku tak cukup. Aku takut bandara.

Bandara.. ah.. tempat itu bisa mendefinisikan berbagai macam air mata—bahagia atau sedih. Ketika baru tiba di Jambi aku senang bukan main. Tapi ketika waktuku telah tiba untuk kembali, sungguh, air mata perpisahan itu akan lebih deras daripada air mata pertemuan. Tapi itulah hidup, terus berputar, dan tak ada yang abadi. Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, masalah waktu saja. Aku takut. Aku takut pada ketidakabadian itu.

Aku takut aku tak bisa menahan tangis ketika harus berpisah lagi di akhir februari. Aku bahkan takut tak bisa melepaskan pelukanku untuknya ketika kami harus berpisah. Aku takut membayangkan bagaimana sakitnya ketika kembali lagi ke jakarta tanpa dia. Ya, aku takut, mungkin aku pengecut. Atau aku bukan wanita yang tegar. Terserah kau mau bilang apa, tapi aku takut. Dan ketakutan itulah yang membuatku tak ingin pulang…

Ya Allah, jadikanlah kecintaanku padaMu melebihi cintaku pada apapun ciptaanMu. Kuatkan aku.. Pegangi aku Ya Rabb..

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on January 10, 2011, in Metamorfose Kuliah Wai, ngaco. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: