Mengikhlaskan Sebuah Kue

Aku sedang galau, ah.. ya, galau. Aku tak tahu kata apa yang bisa menjelaskan perasaanku saat ini, berhubung kata itu sedang ‘in di kalangan anak muda akhir-akhir ini, yasudah aku gunakan saja kata itu—galau.
Bingung aku bagaimana menjelaskan perasaan ini. Begini saja, aku akan menggunakan perumpamaan sebuah kue.

Kamu punya sebuah kue, yang kalau aku lihat dari warnanya, teksturnya, bentuknya, sepertinya enak sekali. Aku sangat menginginkan kue itu. Ingiiiin sekali sampai aku meminta kue itu padamu. Eh, tapi ternyata bukan Cuma aku saja yang menginginkan kue itu. Banyak orang sedang mencari cara untuk mendapatkan kue itu darimu. Mereka dan aku sama-sama meminta kue itu padamu.
Kau pun menganggap kue ini sangat berharga. Kue itu menurutmu hanya akan diberikan kepada salah satu diantara kami yang memang cocok untuk mendapatkan kue itu. Karena itu kau meminta beberapa persyaratan yang harus kami lakukan, seperti seleksi saja.
Kau ingin aku dan mereka meyakinkanmu bahwa kami memang cocok. Kau bertanya tentang selera aku dan mereka, seberapa kadar kemanisan kue yang kami inginkan. Kau bertanya, jika aku dan mereka disuruh membuat kue, maka berapa banyak gula yang harus kami campurkan. Kemudian kau bertanya juga tentang pengalaman kami membuat kue dan pengalaman kami ketika memakan kue.
Aku bingung bagaimana cara menjawab pertanyaanmu. Jujur saja, seleraku berubah-ubah. Kadang aku sangat suka yang manis, tapi tak jarang aku lebih memilih yang asin-asin. Aku pun pernah membuat kue, tapi takaranku juga selalu berubah-ubah. Pengalamanku, ya sesuai dengan takaran dan seleraku di setiap kali aku membuat dan memakan kue—selalu berubah.
Aku tak tahu bagaimana mereka menjawab pertanyaanmu itu. Apakah mereka juga membuat kue sepertiku, sering tapi berubah-ubah. Atau kah malah mereka pernah sekali membuat kue, tapi mereka sudah menggunakan takaran yang pasti, karena selera mereka tak berubah-ubah.
Aku tak tahu jawaban mereka apa, yang aku tahu adalah kami semua telah menjawab pertanyaanmu. Aku sekarang galau, apakah jawaban-jawabanku itu telah cukup untuk meyakinkanmu bahwa akulah orang yang cocok untuk mendapatkan kue darimu, atau kau malah lebih yakin bahwa mereka yang lebih cocok? Aku galau.
Aku menghitung berapa kali matahari muncul dan berapa kali ia menghilang dan bersembunyi dari bulan. Kau belum juga memutuskan apakah aku cocok. Aku semakin deg-degan. Aku sangat menginginkan kue itu.

Kemudian, di tengah kejaran matahari dan bintang, aku berkata kepada diriku sendiri..

“Wai, kalo punya mau tuh jangan terlalu ngotot. Kalau kamu sudah usaha, ya tinggal tawakkal aja sih! Nih, kalau nanti dia misalnya ngasi kue itu ke kamu, bisa aja kan, kue itu ga pas dgn selera kamu ketika itu. Kamu blm tau, seleramu itu berubah-ubah. Kamu ga bisa mastiin bahwa kue itu nanti cocok buat kamu. Benar wai, cuma Allah yang tau kan…?! Nah… jadi kl nanti dia ga mau ngasi, ya jangan sedih, mungkin artinya Allah lagi nyiapin kue lain yang lebih cocok dengan selera kamu. Percayalah, Allah lebih tahu seleramu daripada dia,mereka, atau kamu, karena itu percaya saja bahwa apapun nanti, keputusannya adalah yang terbaik dan paling cocok buat kamu menurut Allah. Pilihan Allah ga pernah salah, kan, wai… ”

Matahari semakin lama berkejaran dengan bulan. Pikiranku kemudian berubah lagi…

“Kalau nanti dia mutusin kue itu bukan untuk aku, jangan-jangan itu artinya aku punya kesalahan. Mungkin Allah sedang menegurku. Mungkin saja dulu aku sudah terlalu sering menolak kue pemberian orang, jadi sekarang Allah ingin memberiku pelajaran betapa berharganya sebuah kue. Rasain tuh kan! sekarang kamu yang akan kehilangan kue yang berharga“

Matahari dan bulan berkejaran semakin lama membuatku sering bertukar-tukar pikiran. Kadang juga aku ngotot ingin mendapatkan kue itu. Apapun alasannya, aku tidak mau tahu, pokoknya aku mau mendapatkan kue yang indah itu. Kue itu berharga sekali, pasti orang tua, keluarga, dan semua orang akan bangga jika aku berhasil mendapatkan kue itu. Aku tak peduli kue itu manis atau asin, sesuai atau tidak dengan seleraku saat itu. Yang penting orang tuaku akan menepuk pundakku ketika melihat aku berhasil mendapatkan kue itu. Aku tak peduli apakah takaran gulanya pas atau tidak dengan kesukaanku, yang penting kue itu cantik, dan jika keluargaku melihatnya, mereka akan merasa bangga memiliki aku.
Jika pemikiranku yang pertama yang datang ke kepalaku, aku merasa lebih tenang. Mungkin bahasa indahnya adalah aku merasa lebih ikhlas. Aku akan menerima keputusan Allah melalui dia. Aku ikhlas karena yakin bahwa Allah tahu seleraku, dan berusaha mencarikan kue lain untukku yang lebih pas.
Tapi bulan masih saja mengejar matahari, dan matahari masih terus bersembunyi. Kau belum juga memberitahuku siapa yang pantas memiliki kue itu, aku atau mereka. Aku semakin deg-degan. Galau ku semakin menguat semakin hari karena pemikiranku yang selalu berubah-ubah itu. Karena itu.. Aku memohon pada Zat Yang Menguasai jiwa dan ragaku untuk memegangi aku ketika kau memberitahu siapa orang yang pantas untuk kue itu. Aku memohon.. sebuah keikhlasan untuk sebuah kue..

“Wahai Zat Yang Menguasai jiwa dan ragaku, jagalah hati ini untuk tidak mencintai kue melebihi cintaku padamu. Jika kue itu bukan untukku, maka yakinkan aku bahwa aku akan menerima kue yang menurutmu lebih baik. Yakinkan aku bahwa Engkau telah memilihkan kue lain. Kue pilihanMu. Pegangi aku ketika aku mendengar keputusan darinya hari Senin nanti. Pegangi aku , dalam Ikhlas…Amin..”

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on January 5, 2011, in Metamorfose Kuliah Wai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: