Sebuah duka untuk keluarga Tebak

Sabtu yang cerah, meski semalam aku begadang mengerjakan makalah matakuliah Hukum Bisnis, pagi ini aku harus tetap bersemangat (yiiha!). Pagi ini aku mencuci baju dan membereskan kamar. Satu pelajaran: hanya butuh waktu semalam untuk memberantakkan kamar, tapi butuh berhari-hari untuk membereskannya. Itulah kamarku. Perlu perjuangan untuk merapikannya lagi. Aku tak tahu darimana asal semangat ini, apakah dari doa ibuku semalam, atau darimana, yang jelas ada semangat pagi ini.

Setelah mencuci dan membereskan kamar, aku mengerjakan tugas kuliahku. PR POA dan PR Corfin, yang harus dikumpulkan hari senin dan selasa nanti harus diselesaikan hari ini juga, atau aku tak akan bisa mengerjakannya lagi besok. Beberapa hari kedepan akan menjadi hari yang sangat sibuk. Aku memutuskan untuk aktif lagi di kampung dongeng mengingat aku masih punya hutang cita-cita menjadi “seseorang” bagi anak-anak di negeri ini. Belum lagi tugas baruku sebagai ketua jurnalistik yang menguras hati (halah). Tambah lagi, panjangan antrian tugas kuliah yang lain, ah.. MAKALAH!

Siang ini POA dan Corfin dinyatakan selesail LUNAS! Aku lega sekali ketika mencoret 2 list tugas di catatanku itu. Setelah azan zuhur aku berangkat ke kampus. Niatnya mau ke perpustakaan daerah Nyi Ageng serang, tapi niatku batal ketika di kampus aku bertemu dengan anak ROHIS yang mengajakku rapat revisi AD-ART.

Ashar, waktunya istirahat rapat, aku pun pamit. Kuhabiskan waktu di Student Lounge untuk refresh otak, dengan fb-an. Yah, tak apalah, ini upah atas kerja kerasku semalam dan pagi tai. Sorenya aku teater, senangnya..

Malam ini teater berkabung. Qodriansyah, salah seorang anggota keluarga teater UB kehilangan seorang yang ia cintai. Neneknya meninggal dunia. Pecahlah tangis malam ini. Aku bingung hendak berbuat apa. Melihat Qodri menangis seperti melihat ketakutan terbesar dalam diriku.

Mungkin aku belum cerita disini… tapi sedikit bocoran, aku adalah anak nenek dan kakekku. Sejak kecil aku dirawat mereka dan tanteku. Pergi dan pulang sekolah diantar tante. Tidur sama nenek atau sama kakek. Begitu dekat aku dengan mereka, sampai-sampai aku merasa punya 2 orangtua. Kelas 5 SD baru aku tinggal dengan orang tuaku, jadi wajarlah aku merasa lebih dekat dengan nenek dan kakek.

Ketakutan terbesarku muncul ketika aku harus berangkat ke jakarta meninggalkan mereka—orang yang aku sayangi. Sering kali aku bermimpi mereka meninggalkanku dan tak sempat bertemu aku untuk sekedar mengucapkan salam berpisah. Ya, aku takut maut memisahkan kami ketika jarak tak memungkinkan kami untuk sekedar bersalaman. Aku sangat menyayangi mereka, namun aku hanya manusia yang tak bisa menentang takdir.

Alhamdulillah sudah setahun lebih merantau di Jakarta, aku belum kehilangan satupun keluargaku. Tapi hari ini, Qodri, seperti kembali menunjukkan ketakutanku itu. Aku takut, takut kehilangan juga. Sungguh, rasa itu sangat kuat. Bagaimanalah, sejak kecil, aku sakit, sehat, tawa, tangis, dilalui bersama mereka. Bagaimana pula aku bisa berpisah? “Tuhan aku mohon jagalah hati dan cintaku hanya untukMu.”

Duka Qodri tadi menjadi duka bagi kami. Tak banyak yang bisa kulakukan karena aku sendiri pun terlalu lemah untuk mendengar berita duka itu. Selembar tisu dan semangat yang bisa aku berikan kepada Qodri. Tak lupa doa semoga ia diberi ketabahan dan semoga neneknya itu diberikan tempat yang indah di sisi-Nya. “amin..”

“Wahai Allah yang menguasai nyawa kami, Sungguh kami tak bermaksud menentang takdir-Mu. Hanya saja, hati ini masih terlalu lemah, Ya Rabb.. Jadikanlah cinta kami kepadaMu melebihi cinta kami pada apa-apa yang ada di langit dan di bumi. “

“Wahai Zat yang menguasai waktu. Sungguh kami tak sedikitpun mengetahui rahasia umur kami, bahkan sedetikpun kami tak bisa menjamin kehidupan kami. Karena itu Ya Rabb, tuntunlah kami agar selalu berada di jalanMu, sehingga ketika Izrail datang menjemput, kami bisa berangkat dalam keadaan mengingatMU.”

‘Wahai Zat yang mengetahui kelemahan dan kekuranganku, tuntunlah aku dalam setiap langkahku. Berikan aku yang terbaik bagiku.  Berkahilah sisa umurku. Hanya kepadaMu lah kami kembali…”

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on December 18, 2010, in Metamorfose Kuliah Wai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: