Nahkoda Melihat Badai

14 Desember 2010
Dan lagi, aku menulis catatan harianku.. Kuliah dan urusan organisasi sudah cukup menyita banyak energi di otak,, biarlah malam ini aku hanya menulis mengikuti irama jari, untuk membuat otak ini sedikit rileks dengan menumpahkan apa yang ia fikirkan.. Mungkin tulisan ini tak penting bagimu yg membaca. Sudalhah, yang penting aku terus terus menulis.. keep writing wai!!

“Nahkoda ini mulai melihat badai dari kejauhan. Ya, dia tahu, cepat atau lambat badai itu akan menerpa kapalnya. Menunggu waktu saja, yang pasti badai itu sudah terlihat. Ini penentuan seberapa hebat ia menaklukkan sang badai”

Itulah kondisiku saat ini. Sudah tercium bau-bau kerepotan menjelang UTS. Yang jelas, sudah ada banyak paper yang mesti diselesaikan sebelum minggu tenang UAS. Hanya beberapa minggu saja berarti. Ketika membuat list tugas, aku sempat shocked, ternyata dalam kurun waktu 3 minggu ke depan, aku harus mengerjakan paper yang jumlahnya melebihi jumlah jari-jari tanganku. Baiklah, sepertinya Allah ingin menghadiahi aku ketangguhan..

Di tengah terpaan tugas-tugas ini aku malah dihadapi dengan tugas baruku sebagai ketua Jurnalistik. Organisasi ini carut-marut, aku sebagai pengurus baru mesti memperbaiki banyak kesalahan yang telah dilakukan oleh pengurus lama. Allah, tunjukkanlah aku yang lurus.. Proker, AD/ART, Kegiatan jangka pendek yang mesti dilaksanakan, oh.. kuliah dan organisasi memang selalu menulis kisah panik dan sibuk yang “indah”..

Tidak cukup itu saja, datang lagi sebuah cobaan yang “menggiurkan”. Kak Awam, menawarkanku untuk ikut pelatihan mendongeng di kampung dongeng, sebuah komunitas anak dan dongeng yang ia kelola; nantinya orang-orang yang dilatih ini akan menjadi pengurus Kampung Dongeng. Aww.. bagaimana pula aku bisa menolak! Menjadi pendongeng yang bisa berbaur dengan banyak anak adalah kegemaran dan cita-citaku. Apalagi jika yang menawarkan adalah orang seprofesional kak awam. Tak sanggup aku berkata “tidak” untuk tawaran itu. Ini sudah menyangkut masa depan.

Dari sisi lain, ada pula tugasku sebagai panitia Acara Tahunan Olimpiade Taman Baca Anak, dari komunitas 1001 buku. Gawat, ternyata eksis di berbagai organisasi itu cukup berbahaya. Aku hanya punya 24 jam dalam sehari, dan 7 hari dalam seminggu. Bagaimanapun aku membagi waktu, tetap saja akan ada kegiatan yang terbengkalai. Karena sejak dulu prioritasku adalah Kampung dongeng, maka aku putuskan untuk mengundurkan diri dari kepanitiaan acara ini.
Aku menghitung kemampuan diriku. Kuliah, UKMA Jurnalistik, UKMA Teater, dan Kampung dongeng serta sahabat anak; OK, ini sudah cukup. Mungkin lain waktu, aku bisa membantu di 1001 buku.

Baiklah, daftar nama organisasi ini akan membentuk badai hebat menjelang januari. Mereka berkomplot dengan paper-paper kuliah serta UAS untuk mengetes kehebatan nahkoda –juwairiyyah
Hey kalian! Coba saja! Aku tidak akan menyerah! Aku akan terus berlayar, sekuat apapun badai yang menerpa! Lihat saja, aku akan sampai ke pulau dengan selamat, membawa sejuta kisah tentang kalian!

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on December 14, 2010, in Metamorfose Kuliah Wai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: