Then, the november has been ended

Bukankah aku dulu pernah berteriak “WAKE ME UP WHEN NOVEMBER ENDS?” sebuah kalimat tanya hasil modifikasi judul lagu. Ya, itu dulu, di pertengahan bulan november ketika rasa sedih, penat, kesal, rindu, stress, semua menyatu di kepalaku. Berat sekali, semua masalah bertubi-tubi menghampiriku. Jurnalis dengan ketidakjelasan reorganisasinya, tugas kuliah dan segala keribetan teamwork, deadline ini itu, serta ditambah pula dengan UTS. Satu bulan yang penuh sesak lika-liku kehidupan mahasiswa.
Segala Puji bagi Zat Yang Maha Mengetahui Kelemahan dan Kelebihanku,
November berlalu dengan hasil yang patut aku syukuri. Setelah berhasil menjadi tutor untuk Mata kuliah Akuntansi, aku pun berhasil mendapatkan nilai POA tertinggi ‘seantero jagat raya’. 98, angka yang nyaris sempurna, bukan? Kalau bukan karena bantuan-Nya, tak mungkin aku bisa mendapatkan nilai itu. Dialah Zat Yang Maha Memiliki ilmu, dan dengan ilmunya aku mengerjakan POA itu. Ia begitu Mengetahui kelemahanku, sehingga ketika mengerjakan UTS, Dia menuntunku untuk berhati-hati dan teliti. Begitu sayang Dia padaku, sungguh aku harus bersyukur.
Segala Puji bagi Zat Yang Menguasai hatiku..
Dia Maha Mengetahui betapa hati ini sangat merindukan kedua orang tua, adik kecilku, kakek dan nenek, dan seluruh keluargaku di Jambi. Aku benar-benar ingin pulang di November kelabu itu. Beberapa kali aku termenung. Benarlah kata orang, menjadi seorang anak rantau itu tidak mudah, tetapi bisa dilalui dengan ketegaran. Tegar dan terus bersabar. Kemudian aku bertemu dengan Bapak Agus Sulistyo, seorang NLP trainerpreneur yang handal, yang kemudian menyemangatiku dengan kata-katanya “To be success, you have to pay the price”. Tidak ada yang gratis di dunia ini, kawan! Tidak akan ada nahkoda yang handal yang lahir dari laut yang tenang. Karena itu kita harus bersiap siaga. “sukses hanyalah masalah waktu saja. Ketika waktu itu datang, kita harus sudah siap.”
Segala Puji bagi Zat Yang Maha Penyayang..
Jauh dari keluarga, jauh dari kasih sayang. Itu yang aku rasakan. Namun, Allah yang Ar-rahiim itu mendatangkan teman-teman yang menyayangiku. Teater, sebuah unit kegiatan mahasiswa di UB, yang telah kuanggap sebagai keluarga keduaku, malam ini benar-benar membuatku haru. Ketika aku berkata aku akan pergi meninggalkan mereka karena ada tugas di organisasi lain yang harus aku selesaikan, mereka menyemangatiku, support yang seperti itu hanya akan datang jika mereka menyayangiku, bukan? Terimakasih untuk backsound “syukur” tadi, teman. Aku akan merindukan kalian. Pementasan kita ini, aku harap bukan sebuah farewell show..
Segala Puji bagi Zat yang Menguasai perputaran waktu..
First December ini begitu indah.. ternyata aku semakin menua..

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on December 1, 2010, in Metamorfose Kuliah Wai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: