Selamat Hari Guru! (Guru jaman dulu dan guru jaman sekarang)

Ada kah yang tau reff dari lagu yang berjudul Oemar Bakrie ini???

Oemar Bakri… Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri… profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

Kira-kira seperti itulah Iwan fals menggambarkan seorang guru; jujur berbakti yang sering makan hati karena kelakuan muridnya. Gajinya pas-pasan menunjukkan kesejahteraan guru yang sangat minim tetepi tetap saja bersemangat mengajar murid-muridnya.

Guru, pernah aku mendengar cerita dari ayahku mengenai gurunya–guru jaman dulu. Guru yang bersemangat mengajar, tak kenal berapa puluh kilometer jarak yang harus di tempuh, tak kenal peluh yang bercucuran di kepala, tak kenal berapa susah medan yang harus di tempuh untuk sampai ke tempat dimana muridnya menanti ilmu. Ya, seperti itulah guru ayahku semasa beliau kecil.

Guru. dari gambaran ayah, sepertinya guru adalah sosok yang sangat mulia, benarlah istilah yang sering disebut-sebut oleh ibu guruku di sekolah dasar, bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kata ayah, gurunya dulu tak pernah memperhitungkan berapa upah atau imbalan yang ia dapat dari hasil mengajar. Kepuasannya adalah jika melihat murid-muridnya menerima ilmu pengetahuan yang ia berikan. Meski matahari belum terbit, gurunya sudah berjuang melewati rintangan di jalan dan beberapa jam kemudian tiba di tempatnya mengajar.

Atas semua jeri payah dan semangatnya itu, pantas lah kita mengatakan GURU ADALAH PAHLAWAN TANPA JASA.

Itu Guru Jaman dulu ya…
sekarang versinya sudah beda, disesuaikan dengan perkembangan jaman…
Kalau dulu tantangan guru adalah kecilnya imbalan, sulitnya medan yang harus dilalui, dan beragam masalah sosial ekonomi lainnya, sekarang sudah beda…

sekarang aku yang mau bergantian cerita kepada ayah tentang guru versi “jamanku”

Katanya, pemerintah sudah berusaha menaikkan kesejahteraan guru, yah.. Gaji dinaikkan, isentif ditambah, dan banyak penghargaan bagi guru yang berprestasi. Jadi guru sekarang sudah makmur katanya, yah.. Makanya banyak yang rebutan mau jadi guru. Apalagi guru yang PNS, yah.. PNS skrg sudah terangkat kesejahteraanya. Makanya, banyak orang yang melakukan berbagai cara agar lulus tes PNS. Aih, ini subjektif sekali, yah.. tapi begitulah fakta yang aku temukan di lapangan..

Kalau sudah enak seperti itu, apakah guru masih bisa digelari “pahlawan tanpa tanda jasa, yah?”

Mungkin iya, atas semua ilmu yang telah diberikan, guru memang pantas disebut Pahlawan. Tapi apakah “tanda tanda jasa”? mungkin kita berbeda dalam hal ini…

Tanpa tanda jasa atau tidak, ternyata guru yang jaman ayah dan jaman aku sama-sama orang yang “teraniaya”. (aih, apa pula bahasaku ini). Eits.. jangan underestimate dulu, maksudku teraniaya adalah orang yang kesusahan.. Sama-sama susah, hanya kesusahannya saja berbeda versi..

Guru jaman sekarang kehidupannya bolehlah sejahtera, ke sekolah tidak lagi menggunakan sepeda butut seperti Oemar Bakrie dulu. Tas yang dijinjing bukan tas lusuh lagi, dan mungkin banyak guru sekarang menggunakan sepeda motor bahkan mobil.. Terlihat jauh lebih enak dari guru jaman ayah dulu…

Tapi jika melihat sinetron, sekarang lagi heboh cerita guru “dianiaya” muridnya sendiri. Sinetron-sinetron ABG, sering memperlihatkan kejahilan murid terhadap gurunya. Adalah yang gurunya dikerjain dengan mainan aneh, ada yang ditipu muridnya, dan banyak lagi.Murid yang sekarang juga kurang patuh terhadap gurunya.Nah, inilah kenapa guru jaman dulu dan guru jaman sekarang terasa beda wibawanya…

Kesimpulan, Ternyata jaman tidak banyak mengubah nasib guru, hanya mengubah versi penderitaannya saja.

Untuk guru-guru yang tak kenal lelah mengajar muridnya dengan niat ibadah, aku berdoa..
“Wahai Allah, terimalah pahala orang-orang yang telah berjasa mendidik kami, tempatkan ia di tempat yang indah di Syurga, Muliakalah mereka, dan semoga ilmu yang telah mereka berikan kepada kami menjadi berguna dan berkah, sehingga kami bisa menjadi insan yang bermanfaat bagi keluarga, agama, bangsa, dan negara…”

SELAMAT HARI GURUUU!!!

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on November 25, 2010, in Proyek Sastra Wai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: