Catatanku yang dibaca oleh Ketua Jurusan Manajemen UB

Deddi Hardiansyah, Mahasiswi Bakrie tentunya sudah tak asing lagi dengan nama ini. Petang ini aku benar-benar tertegun karena sebuah dialog singkat dengan Pak Deddi, ketua jurusan Manajemen Universitas Bakrie.


Pak deddi : “anda jubaidah kan?”
Saya : “bukan pak, juwairiyyah.”
Pak Deddi : “oh iya, juwairiyyah. Saya ingat sama anda karena saya pernah baca catatan anda”
Saya : “catatan? Catatan yang mana ya, Pak?”
Pak Deddi : “tentang sosiologi, waktu itu anda tulis di belakang kertas ujian”
Saya : (malu, tak tahu mau berkata apa) “hm.. kok bapak bisa tahu?” (Cuma bisa berkata itu karena tak menyangka catatan disela-sela ujian itu dibaca pak deddi)
Pak Deddi : “tentu saja, selalu ada catatan setiap selesai ujian. Bagus, tapi tidak semua orang berfikir seperti anda.”

Catatan yang mana? Sosiologi? Apa yang saya tulis tentang sosiologi waktu itu? Kenapa saya menulisnya? Banyak pertanyaan yang muncul di kepala saya waktu itu. Tak butuh waktu lama, saya bisa mengingat beberapa hal.

UAS (Ujian Akhir Semester) mata kuliah Sosiologi adalah hal yang sedikit “menyebalkan” bagi saya. Model soalnya adalah pilihan ganda dan essay singkat. Pertanyaannya tidak jauh dari seputar “apa istilah” dan “siapa nama”. Menyebalkan bukan karena saya tidak bisa menjawab, tapi karena saya tidak mendapatkan “esensi” dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Ada banyak istilah-istilah yang tercantum di dalam buku sosiologi dan ada banyak nama ahli dengan teorinya masing-masing. Bagi saya, Ini memang merupakan hal yang penting untuk diketahui tapi tidak baik untuk dijadikan pertanyaan dalam UAS—semua pertanyaan UAS.

Tujuan saya belajar sosiologi adalah mempelajari keberagaman masyarakat, bagaimana mereka berinteraksi, apa saja konflik dan masalah di individu sampai masyarakat internasional, dan apa solusinya. Sekali lagi, istilah, teori, dan nama ahli adalah hal yang penting, tapi itu bukan tujuan saya. guna pertanyaan itu apa? Kenapa pertanyaan itu muncul di Ujian?

Lalu saya berfikir lagi, Apa gunanya Ujian? Apa gunanya kita belajar sebelum ujian? Kenapa mesti ada ujian.
Beberapa orang memberi jawaban yang hampir serupa seperti ini: ujian itu mengukur sejauh mana kita menguasai mata kuliah yang telah dipelajari, karena itu muncul lah angka—nilai—sebagai ukuran keberhasilan kita. bagi yang berfikir seperti ini silahkan baca notes ini http://bit.ly/cD033M

Bagi saya, ujian berguna untuk mengukur apakah tujuan saya belajar sudah tercapai atau tidak. Nah, kalau tujuan saya adalah mempelajari keberagaman masyarakat, bagaimana mereka berinteraksi, mengapa terjadi konflik dan masalah mulai dari individu sampai masyarakat internasional, dan apa solusinya; wajar saja kan jika saya kecewa dengan ujian yang formatnya apa istilah, apa teori, dan siapa nama penemunya?

Kekecewaan itu lah yang mendorong saya menulis sebuah catatan di belakang kertas ujian. Isinya adalah (ini yg saya ingat)

Saya bingung kenapa ADA UJIAN TERTULIS YANG SIFATNYA CLOSED BOOK PADAHAL DI “DUNIA NYATA” SEMUA UJIAN TIDAK TERTULIS YANG SIFATNYA OPENED BOOK (PRAKTEK DAN SETIAP ORANG BERHAK MEMBUKA BUKU APA SAJA).

Kalau untuk pelajaran matematika, oke bisa dimaklumi. Bagaimana dengan sosiologi? Apa masih jaman kita menghafal istilah, teori, dan nama ahli? Sementara masyarakat di luar sana terus berubah pola dan berbagai konflik pun muncul. Di luar sana, yang akan ditanyakan adalah solusi! Sekali lagi, S.O.L.U.S.I Bukan istilah. Bukan teori. Bukan nama ahli.

Lalu, kenapa ujian di kampus ini istilah, teori, dan nama ahli??? Tertulis dan closed book. Apa tidak sebaiknya ujian opened book saja, dan menganalisa suatu masalah masyarakat. (ini lebih masuk akal bagi saya)

Saya ingin mempelajari apa yang akan saya aplikasikan. Anggap saja nanti saya memiliki sebuah perusahaan. Tentu sekecil apapun perusahaan saya itu, pasti ada kaitannya dengan masyarakat. Masyarakat adalah salah satu stakeholder, bukan? Nah, saya harus mengetahui apa yang mereka butuhkan, bagaimana pola perilaku mereka, bagaimana mereka berinteraksi, konflik apa saja yang timbul karena interaksi itu, keberagaman apa saja yang ada di antara mereka, dan banyak lagi…
Memang benar, saya butuh mengetahui beberapa istilah dalam masyarakat, beberapa teori ahli jaman dulu, dan siapa nama ahli yang menemukan teori itu. Tapi itu bukan suatu hal yang krusial. Ketika ada konflik di masyarakat, kita tidak bertanya “disebut apa konflik ini? Siapa nama ahli yang menemukan konsep menggunakan pendekatan sosial konflik? Atau istilahnya apa? Teorinya apa?” sekali lagi, tidak akan ada pertanyaan itu. Pertanyaan yang akan muncul adalah kenapa ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.

Itu beberapa hal yang saya ingat tentang catatan saya di balik kertas ujian,..

Pak Deddi memberikan komentar di akhir dialog kami tadi..
“bagus, tapi tidak semua orang berfikir seperti Anda”

Timbul pertanyaan besar bagi saya, Apa alasan orang untuk tidak berfikir seperti apa yang saya fikirkan? siapa yang berfikir bahwa pertanyaan “apa istilah, apa teori, dan siapa nama ahli” itu penting untuk dikeluarkan di ujian?

About waididudidam

-I might not be the best daughter in the world, but I will do my best for my parents. -(Sedang Berusaha Menjadi) Cerdas, Berintegritas, dan Bermanfaat -(Dalam Proses Menuju) Juwairiyyah, S.E

Posted on August 9, 2010, in Pemikiran Sakti Wai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: